Perangkat atau Instrumen Akreditasi SD SMP SMA SMK Tahun 2026 mengacu pada IA 2024 Versi Revisi 2025. Instrumen Akreditasi ini diterbitkan BAN PDM. Sebagaimana diketahui berdasarkan Permendikbudritsek Nomor 38 Tahun 2023 tentang Akreditasi Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, BAN PDM memiliki kewenangan menilai kelayakan dan mutu layanan PAUD SD/MI SMP/MTs SMA/MA/SMK Sederajat.
Instrumen terbaru adalah Instrumen
revisi 2025 yang dihasilkan melalui serangkaian uji coba komprehensif. Sebagai
bagian dari komitmen berkelanjutan terhadap peningkatan standar mutu, BAN-PDM
senantiasa melakukan penyempurnaan instrumen akreditasi, termasuk untuk jenjang
pendidikan dasar dan menengah. Proses penyempurnaan ini telah melewati
serangkaian uji coba komprehensif untuk memastikan instrumen yang dihasilkan
relevan, akurat, dan mampu merefleksikan kondisi faktual satuan pendidikan.
Penyempurnaan instrumen
akreditasi ini mensyaratkan pemahaman yang mendalam. Pemahaman tersebut tidak
hanya terbatas pada format instrumen yang baru, melainkan juga mencakup aspek
konseptual, filosofis, dan implementasi praktisnya. Oleh karena itu, pelatihan
khusus mengenai instrumen akreditasi versi penyempurnaan ini menjadi sangat
esensial guna memastikan para asesor dapat melaksanakan tugas mereka secara
optimal dan profesional.
Instrumen Akreditasi Akreditasi
SD SMP SMA SMK ini didesain untuk menilai kinerja sekolah/madrasah, bukan
sekadar kepatuhan administratif terhadap regulasi. Dengan demikian, Instrumen
Akreditasi SD SMP SMA SMK fokus pada area-area kinerja yang terbukti berdampak
langsung pada pengalaman belajar dan perkembangan murid. Area ini mencakup:
•
Kepemimpinan sekolah/madrasah dan pengelolaanya, termasuk kemampuan kepala
sekolah/madrasah memimpin perbaikan berkelanjutan, termasuk penggunaan data
untuk perencanaan, dan pemanfaatan sarana prasarana secara optimal (Hallinger,
2011; Hallinger & Heck, 1998; Stronge et al., 2013).
•
Kinerja pendidik dalam proses pembelajaran, yang mencakup interaksi bermakna,
desain pembelajaran kontekstual, dan asesmen autentik (Barron &
Darling-Hammond, 2008; Bicay & Treska, 2014; Ko et al., 2014).
•
Iklim lingkungan belajar, seperti rasa aman, inklusivitas, dan partisipasi
aktif peserta didik (Darling-Hammond & Adamson, 2010).
•
Hasil belajar murid, dalam konteks ketercapaian kompetensi dan karakter, yang
dapat dilihat melalui data asesmen nasional dan indikator kualitas layanan
lainnya (Bialik et al., 2015).
Dengan demikian, Instrumen
Akreditasi SD SMP SMA SMK tidak hanya menilai keberadaan dokumen atau program,
tetapi menilai apakah kondisi nyata dan perilaku di satuan pendidikan
benar-benar mencerminkan kualitas layanan pendidikan yang baik.
Instrumen Akreditasi SD SMP
SMA SMK dirancang selaras dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan Rapor
Pendidikan, dengan fokus pada substansi dan dampak nyata dari pemenuhan standar
tersebut. Melanjutkan pendekatan sebelumnya yang menekankan kepatuhan atau
compliance terhadap pasal-pasal regulatif, Instrumen Akreditasi SD SMP SMA SMK mengukur
bagaimana satuan pendidikan menerapkan prinsip dan nilai SNP secara mendalam
dan terintegrasi dalam praktik nyata. 6
Beberapa ciri pendekatan
substansial dan mendalam dalam Instrumen Akreditasi SD SMP SMA SMK :
•
Indikator performa dibangun berdasarkan kajian literatur dan diskusi ahli,
bukan sekadar daftar periksa administratif (Barron & Darling-Hammond, 2008;
Bialik et al., 2015; Bicay & Treska, 2014; Ko et al., 2013).
•
Sub-indikator (atau kriteria penilaian) yang tertutup digunakan untuk menjaga
presisi pengukuran, tetapi bukti pendukungnya bersifat terbuka, mencerminkan
fleksibilitas dalam konteks yang beragam (Ping et al., 2025; Setiawan et al.,
2018).
•
Triangulasi data melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen dilakukan untuk
memastikan bahwa data benar-benar mencerminkan kinerja dan bukan sekadar
formalitas (Creswell & Creswell, 2018; Yin, 2011).
Dengan pendekatan ini, Instrumen
Akreditasi SD SMP SMA SMK menilai apakah sekolah/madrasah 1) merencanakan
kegiatan berdasarkan evaluasi dan refleksi, 2) melaksanakan kegiatan yang
berdampak terhadap kualitas pembelajaran, dan 3) menghasilkan kondisi belajar
yang optimal bagi semua murid.
Peran asesor dalam proses
akreditasi bukan hanya sebagai pengumpul informasi, melainkan sebagai pihak
yang bertanggung jawab untuk mengolah data menjadi keputusan yang bermakna dan
bertanggung jawab. Keputusan tersebut akan berdampak langsung terhadap
pengakuan mutu sekolah, sehingga perlu dibangun di atas dasar pemahaman yang
mendalam terhadap konteks, makna, dan realitas yang terjadi di lapangan. Untuk
dapat menjalankan tugas ini dengan baik, asesor perlu mengadopsi pola pikir
(mindset) tertentu dalam proses penggalian data:
•
Makna Lebih Penting daripada Angka. Pendekatan kualitatif dalam akreditasi
berangkat dari keyakinan bahwa realitas sosial tidak dapat sepenuhnya
dijelaskan oleh angka. Oleh karena itu, fokus utama dari proses pengambilan
data adalah makna, proses, pengalaman, dan interaksi yang terjadi dalam
kehidupan sekolah. Data yang dikumpulkan ditujukan untuk memahami bagaimana
mutu terbentuk dan dijaga dalam aktivitas nyata di sekolah, bukan hanya
seberapa sering hal itu terjadi.
•
Setting Alami. Data dikumpulkan langsung di tempat berlangsungnya aktivitas
secara alami, bukan dalam suasana buatan atau pengaturan formal. Asesor perlu
peka terhadap dinamika yang muncul secara spontan, seperti interaksi antara
guru dan murid, suasana belajar, atau suasana saat diskusi berlangsung.
Kepekaan terhadap konteks inilah yang memungkinkan asesor untuk menangkap
realitas apa adanya.
•
Sudut Pandang Beragam. Tidak ada satu versi kebenaran dalam pendekatan kualitatif.
Wawancara dengan kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua bisa memberi
perspektif yang berbeda terhadap satu situasi yang sama, dan semua itu sahih
dalam konteksnya masing-masing. Tugas asesor bukan memilih mana yang benar,
tetapi memahami keberagaman pandangan dan mencari pola konsistensi melalui
triangulasi. Semakin banyak perspektif yang tergali, semakin utuh pemahaman
asesor terhadap satuan pendidikan tersebut.
•
Kontekstual dan Holistik. Penilaian tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah
tanpa mempertimbangkan keterkaitan antar aspek. Asesor perlu melihat
keselarasan antara perencanaan, pelaksanaan, dan hasil; antara dokumen,
praktik, dan persepsi. Misalnya, apakah rencana pembelajaran yang ditulis
benar-benar tercermin dalam kegiatan kelas dan hasil karya murid. Penilaian
yang kontekstual dan holistik akan mencegah kesimpulan yang keliru karena hanya
melihat satu sisi dari realitas sekolah.
•
Induktif, Bukan Deduktif. Dalam pendekatan kualitatif, penilaian dimulai dari
data, bukan dari asumsi. Asesor tidak memulai dari skor lalu mencari
pembenaran, melainkan mengumpulkan data, mengamati pola, lalu menarik
kesimpulan. Oleh karena itu, sangat penting untuk menunda penilaian hingga
proses penggalian data betul-betul tuntas. Ketepatan penilaian tidak datang
dari kecepatan menyimpulkan, melainkan dari ketelitian dalam mendengarkan dan
mengamati.
•
Asesor sebagai Instrumen Utama. Dalam metode kualitatif, asesor adalah
instrumen utama dalam pengumpulan data. Maka, kualitas data sangat ditentukan
oleh kemampuan asesor dalam melakukan observasi, mendengar secara aktif,
memahami konteks, dan berpikir kritis. Penilaian yang keliru seringkali bukan
karena kurangnya data, melainkan karena interpretasi yang tidak tepat. Oleh
sebab itu, sikap dan perilaku asesor selama visitasi menjadi penentu penting
bagi keberhasilan penggalian data.
Instrumen Akreditasi SD SMP
SMA SMK 2026 merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari IASP2020 dan IA 2024.
Beberapa elemen kesinambungan yang penting:
•
Konstruk kinerja tetap konsisten, yakni mengukur performa nyata satuan
pendidikan dalam menyediakan layanan berkualitas (Setiawan et al., 2018).
•
Berorientasi pada mutu layanan, bukan sekadar kelengkapan dokumen atau
formalitas administratif.
•
Bermakna dan berdampak, dengan menekankan apa yang terjadi dan dirasakan oleh
murid, bukan hanya apa yang direncanakan di atas kertas.
Perbaikan utama dalam Instrumen
Akreditasi SD SMP SMA SMK adalah penerapan prinsip kontekstual: cara satuan
pendidikan menunjukkan keterpenuhan indikator tidak dibatasi satu bentuk bukti
saja. Sekolah dapat menggunakan beragam pendekatan dan bukti sesuai kondisi
masing-masing, selama terbukti efektif dan berdampak (Harris, 2020).
Misalnya, budaya literasi di
sekolah biasanya dinilai dari keberadaan program tertentu seperti pojok baca.
Dalam Instrumen Akreditasi SD SMP SMA SMK , budaya literasi di sekolah dapat
dibuktikan melalui berbagai cara seperti integrasi membaca dalam rutinitas
kelas, kebiasaan guru membacakan buku, refleksi murid terhadap bacaan dan ragam
bentuk kinerja lainnya.
Prinsip kontekstual ini di
dalam Instrumen Akreditasi SD SMP SMA SMK tercermin pada dua fitur:
-
Penentuan keterpenuhan indikator kinerja tidak terkunci oleh rumusan prasyarat
cara melakukan kinerja yang preskriptif, misalnya memaksakan adanya suatu
dokumen/kegiatan spesifik atau tertentu. Ada opsi bagi asesor untuk menambahkan
bukti lain yang ditemukan saat visitasi.
-
Ada ruang bagi sekolah untuk menjelaskan cara dan strateginya dalam
menyelenggarakan layanan melalui fitur Deskripsi Kinerja Asesi (DKA). DKA
adalah penjabaran Informasi dari sekolah/madrasah tentang caranya berkinerja
dalam memenuhi standar nasional pendidikan. Informasi ini ditulis saat tahap
Pra Visitasi pada laman Sispena dan untuk lebih lengkapnya, dapat dilihat pada
Panduan Asesi yang dapat diunduh pada laman BAN PDM.
Dengan demikian, Instrumen
Akreditasi SD SMP SMA SMK menjaga kontinuitas logis dan metodologis, tetapi
memberikan ruang lebih besar untuk kreativitas dan inovasi satuan pendidikan,
menjadikan proses akreditasi lebih relevan, adil, dan berdaya guna.
Bagi yang membutuhkan, berikut
ini Link download Perangkat atau Instrumen Akreditasi SD SMP SMA SMK Tahun
2026
Link download Instrumen Akreditasi SD SMP SMA Tahun 2026 (DISINI)
Link download Instrumen Akreditasi SMK Tahun 2026 (DISINI)
Demikian informasi tentang
Link download Perangkat atau Instrumen Akreditasi SD SMP SMA SMK Tahun 2026. Semoga
ada manfaatnya
