Penetapan 1 Ramadhan 1445 H (2024 M) dan 1 Syawal 1445 H (2024 M)

.

Penetapan 1 Ramadhan 1445 H (2024 M) dan 1 Syawal 1445 H (2024 M)

Tahun 2023 akan segera berakhir. Umat Islam pasti mencari informasi mengenai kapan awal puasa Ramadhan Tahun 1445 H atau 2024 MasehiPenentuan awal puasa Ramadhan 2024 ditetapkan berdasarkan perhitungan para ulama, ilmuwan, dan pakar hisab. Lantas, kapan awal puasa Ramadhan 2024? Simak informasi lengkapnya di bawah ini.


Kapan Awal Ramadhan Tahun 1445 H atau 2024 Masehi. Tahun 2024 akan memasuki tahun ke-1445 Hijriyah. Berdasarkan Kalender Islam Hijriyah Al Habib, puasa Ramadhan 2024 diprediksi jatuh pada Selasa, 12 Maret 2024. Artinya, 109 hari lagi puasa Ramadhan 2024 akan berlangsung.


Puasa Ramadhan biasanya berlangsung selama 29 atau 30 hari, tergantung pada penampakan sabit yang menandai awal bulan. Sementara, Hari Raya Idul Fitri 2024 diperkirakan akan jatuh pada Rabu, 10 April 2024. Namun, perlu diingat bahwa tanggal-tanggal tersebut masih berupa prediksi. Penetapan awal 1 Ramadhan dan Idul Fitri akan diumumkan oleh pemerintah melalui sidang Isbat. 


Dalam menetapkan puasa Ramadhan, sejumlah pakar seperti ulama, ilmuwan, serta pakar hisab akan menghitung. Nantinya, Kementerian Agama (Kemenag) RI menyelenggarakan sidang isbat setiap tahun untuk merumuskan keputusan tentang awal Ramadhan dan Idul Fitri. Sidang ini biasanya diadakan setiap tanggal 29 Sya'ban.


Lantas, bagaimana menetapkan awal Ramadhan? Berikut sejumlah Metode Penetapan Awal Ramadhan tahun 1445 H atau .2024 Masehi. 


1. Metode Rukyat

Metode ini dikenal sebagai observasi/mengamati hilal. Mayoritas Ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan hanbali menyatakan bahwa awal bulan Ramadhan hanya bisa ditetapkan dengan metode Rukyat. Metode ini memperhitungkan hilal atau bulan baru yang terlihat. Para ulama ini berpegang pada firman Allah dalam Al-Baqarah ayat 185 dan hadits Nabi Muhammad SAW.

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya: "Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan maka hendaklah ia berpuasa (pada) nya." - Q.S Al-Baqarah: 185

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

Artinya: "Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya) maka sempurnakanlah bilangan Sya'ban menjadi tiga puluh hari." (HR. Bukhari, hadits no. 1776).


2. Metode Hisab

Beberapa ulama berpendapat bahwa awal puasa dapat ditetapkan menggunakan metode perhitungan hisab. Metode ini merupakan perhitungan untuk menentukan posisi hilal. Mereka memandang bahwa ayat dalam surah Yunus ayat 5 dan hadits Nabi Muhammad SAW juga mendukung metode perhitungan ini.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Artinya: "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu)." - Q.S Yunus: 5

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Artinya: "Jika kalian melihat hilal (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal Syawal) maka berbukalah. Jika kalian terhalang (dari melihatnya) maka perkirakanlah ia." 


Penetapan awal bulan Ramadhan merupakan perdebatan yang masih terus berlangsung di kalangan ulama dan organisasi Islam di Indonesia. Menyikapi perbedaan pendapat tersebut, Kemenag mengadakan sidang isbat untuk merumuskan keputusan yang diterima secara luas oleh umat Islam Indonesia.

No comments

Theme images by mammamaart. Powered by Blogger.
Back to Top