Sejarah Perkembangan Psikolinguistik

Sejarah Perkembangan Psikolinguistik


SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOLINGUISTIK, RESUME BUKU PSIKOLINGUISTIK, KAJIAN TEORETIK BAB II KARYA KARYA ABDUL CHAER

1.    Pendahuluan 
Pada    awalnya,    psikolinguistik    bukanlah     ilmu   mandiri    yang   dikaji secara khusus.   Psikolinguistik   merupakan   ilmu   yang   dikaji   secara   terpisah baik oleh pakar   linguistik   maupun   pakar   psikologi.   Istilah   psikolinguistik sendiri pertama    kali  digunakan     oleh  Thomas     A.  Sebeok    dan   Charles   E. Osgood pada tahun 1954 pada sebuah buku yang berjudul Psycholinguistik : A  Survey   of  Theory   and  Research   Problems.   Walaupun   sebetulnya,  pengkajian ilmunya telah dimulai sejak zaman Sokrates dan Panini.

Dua     aliran    filsafat,  yakni    empirisme      dan    rasionalisme      turut berkontribusi  dalam    perkembangan  pemikiran    para   ilmuan   di  dua   ranah ilmu   tadi.  Filsafat   empirisme   mengagnggap   bahwa   ilmu   merupakan   objek kajian    yang   dapat   dikenali   secara  inderawi.    Filsafat   ini  erat  kaitannnya dengan      psikologi    asosiasi.    Aliran     ini  mengkaji objek ilmu dengan menganalisis   unsur-unsur   pembentuknya   sampai   sekecil-kecilnya.  Aliran filsafat   rasionalisme   mengkaji   bahwa   akal   sebagai   faktor   yang   harus   dikaji agar   memahami   perilaku   manusia. Turunan   aliran   rasionalisme   ini   adalah faham nativisme, idealisme, dan mentalisme.
Pada awal perkembangannya, psikolingustik bermula dari adanya pakar lingustik yang berminat pada psikologi, dan adanya pakar psikologi yang berkecimpung dalam linguistik. Dilanjutkan dengan adanya kerjasama atar pakar lingustik dan pakar psikologi, kemudian muncullah pakar-pakar psikolingustik sebagai disiplin mandiri.


2.  Psikologi dalam Linguistik
Beberapa tokoh linguistik yang tertarik untuk mengkaji bahasa secara psikologi     adalah   Von    Humbolt,     Ferdinand     de  Saussure,    Edward  Sapir, Leonard Bloomfield, dan Otto Jespersen.
Von Humboldt (1767-1835), pakar lingustik berkebangsaan Jerman telah mencoba mengkaji hubungan  antara bahasa (lingustik) dengan pemikiran manusia (psikologi). Dengan membandingkan tata bahasa dari bahasa – bahasa yang berlainan dengan tabiat-tabiat bangsa-bangsa penutur bahasa itu. Dari perbandingan itu diperoleh kesimpulan bahwa bahasa (tata bahasa) suatu masyarakat menentukan pandangan hidup masyarakat penutur bahasa itu. Von Humboldt mengangap bagian yang tidak dapat dipotong-potong atau diklasifikasikan seperti aliran empirisme. Menurutnya bahasa itu merupakan suatu kegiatan yang memiliki prinsip – prisip sendiri.
Ferdinand  de  Saussure (1858-1913), dalam perkuliahannya memperkenalkan   tiga   istilah   penting   dalam   linguistik,   yaitu  langue,   langage dan  parole.   Langue  bermakna   bahasa   tertentu   yang   masih   bersifat   abstrak, langage bermakna bahasa yang bersifat umum, sedangkan parole merupakan bahasa tuturan secara konkret. Saussure menegaskan bahwa kajian linguistik adalah  langue,  sedangkan   objek   kajian   psikologi   adalah  parole.   Oleh   karena itu, linguis berkebangsaan Swiss ini berpendapat, jika ingin mengkaji bahasa secara  utuh,   maka    ilmu   yang   dapat   mengkajinya      adalah   linguistik dan psikologi.
Edward Sapir (1884-1939), mengkaji hubungan antara bahasa dengan pikiran.   Berdasarkan   kajiannya,   linguis   dan   antropologis   ahli asal   Amerika   ini berkesimpulan   bahwa   bahasa   terutama   strukturnya   merupakan   unsur   yang mennetukan       struktur   pikiran    manusia.    Dia    pun    menambahkan bahwa linguistik    dapat   berkontribusi     pada   teori  psikologi    Gestalt,  begitu   pula sebaliknya.
Leonard Bloomfield (1887-1949), pada perkembangan ilmunya banyak dipengaruhi oleh dua aliran psikologi yang bertentangan, yakni behaviorisme dan mentalisme. Pada    awalnya,    linguis  Amerika     ini  mengkaji   bahasa dengan pendekatan mentalisme. Dia berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman luar biasa, terutama karena penjelmaan tekanan emosi   yang   sangat   kuat.   Karena   tekanan     emosi   itulah   maka   akan   keluar ucapan atau kalimat berbentuk eklamasi, lalu keluar keinginan berkomunikasi berupa  deklarasi.     Jika   keinginan     deklasi    ini   keluar   dalam     bentuk keingintahuan       maka    keluarlah   interogasi.   Pada     tahun   1925    Bloomfield meninggalkan   aliran   empirisme   dan  beralih pada   aliran   behaviorisme,  yang memunculkan teori   bahasa “linguistik     struktural”     dan    “linguistik  taksonomi”.
Otto    Jesperson,    beraliran    mentalistik    dan   berbau     behaviorisme. Otto Jespersen, pakar lingustik berkebangsaan Denmark, menganalis bahasa menurut psikologi mentalistik yang sedikit berbau behaviorisme. Ia berpendapat bahwa bahasa bukanlah suatu wujud pengertian satu benda tetapi merupakan fungsi-fungsi   lambang di dalam otak manusia yang melambangkan pikiran. Menurutnya, satu   kata  pun    dapat   diwujudkan dalam perilaku dengan kata lain komunikasi harus dilihat dari sudut perilaku. Jadi, juga bersifat behavioristik. Malah ia juga berpendapat bahwa satu kata dapat dibandingkan dengan satu kebiasaan perilaku seperti mengangkat topi, melirik atau perbuatan lain. Dengan demikian Jesperson berpendapat bahwa bahasa bukanlah suatu wujud pengertian satu benda tetapi merupakan fungsi-fungsi   lambang di dalam otak manusia yang melambangkan pikiran.

3.  Linguistik dalam Psikologi
Pada    perkembangannya,  ada   beberapa    pakar   psikologi yang   juga mengkaji   psikologi   secara   linguistis.   Pakar-pakar   itu   adalah   John Dewey, Karl Buchler, Wundt, Watson, dan Weiss.
John Dewey (1859-1952), pakar psikologi berkebangsaan Amerika, seorang empirisme murni. Beliau telah mengkaji bahasa dan perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis lingustik bahasa kanak-kanak berdasarkan prinsi-prinsip psikologi. Umpamanya, beliau menyarankan agar penggolongan psikologi akan kata-kata yang diucapkan kanak-kanak dilakukan berdasarkan makna seperti yang dipahami kanak-kanak, dan bukan seperti yang dipahami orang dewasa dengan bentuk-bentuk tata bahasa orang dewasa. Dengan cara ini maka berdasarkan prinsip – prinsip psikologi akan dapat ditentukan hubungan antara kata-kata berkelas adverbia dan preposisi di satu pihak dengan kata-kata berkelas nomina dan adjektiva di pihak lain. Jadi dengan pengkajian kelas kata berdasarkan pemahaman kanak-kanak kita akan dapat menentukan kecenderungan akal kanak-kanak yang dihubungkan dengan perbedaan- perbedaan lingustik.
Karl Buchler, ialah pakar psilogi kebangsaan Jerman. Beliau menulis buku berjudul Sparch Theorie (1934) yang menyatakan bahwa bahasa manusia memiliki   tiga   fungsi  yang   disebut  Organon   Modell   der   Saprch  yaitu  Kungabe (Ausdruck) Appell  (Auslosung)   dan   Darstellung.     Kungabe   adalah     tindakan komunikatif      berwujud    verbal.   Appell   adalah    permintaan     yang   ditujukan kepada   orang   lain.  Darstellung  adalah   penggambaran   masalah   pokok   yang dikomunikasikan. Dasar dari pandangan itu adalah adanya tiga macam hubungan antara A, sipengirim; B, si penerima ; dan X sesuatu yang dikirim lewat bunyi khusus. Dalam hal ini kungabe berkaitandenan A, sipengirim jadi sebagai ekspresi. Di sini bahasa dipandang sebagai simptom atau gejala. Appell dalam kaitannya dengan B, si penerima dalam hal ini bahasa dipandang sebagai sinyal atau tanda. Adapun Darstellung dalam kaitannya dengan X, yaitu sesuatu yang dikirim atau dibicarakan. Di sini bahasa dipandang sebagai simbol. Dalam penggunaan bahasa salah satu dari ketiga fungsi itu Darstellung merupakan fungsi yang paling umum.
Wundt   (1932-1920),   ialah   pakar   psikologi   Jerman   yang   pertama   kali mengembangkan teori mentalistik bahasa. Wundt mengjelaskan bahasa alat untuk melahirkan pikiran. Hal ini terjadi karena terdapat perasaan-perasaan serta   gerak-gerak    yang    melahirkan    bahasa    secara  tidak   sadar.   Menurut Wund,  satu  kalimat   merupakan      suatu   kejadian   akal   yang   terjadi secara serempak. Wundt  pun   terkenal   dengan    teori performansi   bahasa  (language performance).   Teori   ini   menjelaskan   dua   aspek,   yakni   fenomena   luar   (citra bunyi) dan fenomena dalam (rekaman pikiran).
Watson   (1878-1958),   menyamakan   antara   perilaku   berbahasa   dengan perilaku    lainnya   seperti   makan,    berjalan,  dll.   Perilaku    bahasa    menurut Watson adalah hubungan stimulus-respons (S-R) yang menyamakan perilaku kata-kata dengan benda-benda. Dengan       demikian,     pakar    psikologi berkebangsaan Amerika ini menganut aliran psikologi behaviorisme.
Weiss adalah salah seorang tokoh psikologi behaviorisme terkemuka yang telah merintis jalan kearah lahirnya disiplin psikoluguistik. Weiss banyak   berjasa   bagi   perkembangan   awal   psikolinguistik. Ia mengemukakan sejumlah permasalahan yang harus dipecahkan oeleh linguistik dan psikologi, yakni:
a)     bahasa merupakan  satu  kumpulan respons   yang jumlahnya     tidak  terbatas terhadap suatu stimulus.
b)     pada  dasarnya, perilaku    bahasa menyatukan   anggota suatu masyarakat ke dalam organisasi gerak syaraf.
c)     perilaku bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan meragamkan kegiatan seseorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan.
d)     Bahasa dapat merupakan stimulus terhadap suatu respons.
e)     Respons   bahasa   sebagai     suatu   stimulus   pengganti    untuk   benda   dan  keadaan   yang   sebenarnya   memungkinkan   kita   untuk   memunculkan   kembali   suatu   hal   yang  pernah  terjadi,  dan menganalisis  kejadian ini   dalam bagian-bagian.
Menurut Weiss, tugas seorang pakar psikolingustik yang terlatih dalam disiplin lingustik dan disiplin psikologi adalah sebagai berikut :
1.    Menerangkan bagaimana perilaku bahasa menghasilkan satu alam pengganti untuk alam   nyata yang secara praktis tidak dibatasi oleh waktu dan tempat.
2.    Menunjukan bagaimana perilaku bahasa mewujudkan sejenis organisasi sosial yang dapat disifatkan sebagai satu kumpulan dari organisasi kecil yang banyak.
3.    Menerangkan bagaimana perilaku bahasa menghasilkan satu bentuk organisasi dan di dalam organisasi ini panca indera dan otot – otot seseorang dapat ditempatkan agar dapat dipakai dan dimanfaatkan oleh orang lain.
4.    Menerangkan bagaimana perilaku bahasa menghasilkan satu bentuk perilaku yang menjadi fungsi setiap peristiwa di alam ini yang telah terjadi atau akan terjadi di masa yang akan datang.


4.  Kerja sama Psikologi dan Linguistik
        Kerja   sama   kedua   disiplin   ilmu   ini  pertama   kali  berlangsung  pada tahun   1860.   Pada   saat   itu,   Heyman   Steinthal   seorang   ahli   psikologi   yang beralih    menjadi    linguis  dan   Moritz    Lazarus    ahli  linguistik  yang    beralih menjadi ahli psikologi menerbitkan jurnal  “Zeitschrift fur Volkerpsychologie und Sparch   Wissenschaft” (Jurnal    Psikologi   sosial   dan   Linguistik).    Menurut Steinthal, ilmu psikologi tidak mungkin dapat hidup tanpa ilmu linguitik.
        Pada   tahun   1901,   Albert  Thumb   (ahlilinguistik)   dan   Karl   Marbe   (ahli psikologi) menerbitkan buku berjudul Experimentelle Untersuchungen iiber die Psychologishen Grundallen   der   Sparchichen   Analogiebieldung.      Kedua   pakar   tadi menggunakan    kaidah-kaidah      psikologi  eksperimental   untuk     meneliti hipotesis-hipotesis     linguistik yang menghasilkan pengaruh sangat kuat akan lahirnya psikolinguistik.
        Sebuah lembaga sosial Amerika bernama Social Science Research Council menyelenggarakan   sebuah   seminar   tahun   1951   mempertemukan   para   pakar linguistik,   psikologi,   patologi,   ahli-ahli   teori  informasi,   dan   pembelajaran bahasa.     Mereka     merumuskan       hubungan      kerjasama    antara   psikologi   dan linguistik.   Kemudian   pada   tahun   1953,   Osgood   (linguis),   Sebeok   (linguis), dan   Caroll   (ahli   psikologi)   bertemu   dalam   seminar   di   Universitas   Indiana Amerika      Serikat.   Pertemuan      ini  menghasilkan      buku  Pscholinguistics    :  A Survey   of  Theory   and   Research   Problems.  Buku   ini   kemudian   disunting     oleh Osgoods       dan    Sebeok.       Inilah    buku     psikolinguistik     pertama      yang menggunakan   istilah   psikolinguistik.  Sebelumnya   Albert   Thumb   dan  Karl Marbe tidak memakai nama itu.   Tahun 1946, N.H. Pronko dalam artikelnya yang  berjudul  “Language  and  Psycholinguistics  :  A  Review”  dimuat  dalam  jurnal   Psychological Bulletin. Pronko mengaku istilah  psikolinguistiknya diperoleh     dari   gurunya     Jacob   Robert   Kantor    dalam    buku   An    Objective Psycology of Grammar(1936).
Dasar-dasar ilmu psikologi menurut Osgoods dan Sebeok adalah :
a)    Psikolinguistik adalah suatu teori linguistik berdasarkan bahasa yang  dianggap sistem elemen yang saling berhubungan erat.
b)    Psikolinguistik adalah satu teori pembelajaran (menurut behaviorisme) yang berdasar pada bahasa yang dianggap sebagai sistem tabiat.
c)    Psikolinguistik   adalah   satu   teori   informasi   yang   menganggap   bahasa    sebagai alat untuk menyampaikan suatu benda.

5.  Psikolinguistik sebagai Disiplin Mandiri
        Dibukanya   program   khusus   psikolinguistik   pada   tahun   1953   oleh   R. Brown   meruapakn   tanda   formal   ilmu   ini   adalah   disiplin   mandiri. Sarjana  pertama disiplin ilmu ini adalah Eric Lenneberg. Pakar lain yang kemudian  muncul     adalah   Leshley,   Osgoods,    Skinner,   Chomsky,  dan   Miller   yang  kesemuanya sangat berjasa bagi perkembangan psikolinguistik.
        Pada   tahun   1957   Skinner   menerbitkan   buku   Verbal   Behaviour.  Pada tahun     yang    sama    Chomsky      mengeluarkan buku   Syntactic    Structure. Kemudian      Leshley    berpendapat    bahwa    lahirnya   suatu   ucapan    bukanlah pertalian    serentetan   respeons   tetapi  merupakan      kejadian   serempak,    dan secara   tidak  langsung    struktur   sintaksis  ucapan   itu  dihubungkan     dengan bentuk urutannya.
        George   Miller  dalam   artikelnya   yang   berjudul  “The  Psycolinguistics”  (1965) menjelaskan bahwa lahirnya ilmu psikinguistik karena kontribusi ilmu psikologi   yang   mengakui   bahwa   akal   manusia   menerima   lambang-lambang linguistik,   sedangkan   linguistik   mengakui   bahwa   diperlukan   psiko-motor- sosial   untuk   menggerakkan   tata   bahasa.  Miller   pun   memperkenalkan   teori generatif     transformasi     Chomsky      yang     menganggap       bahwa bahasa merupakan   kemampuan   manusia          yang   sangat   rumit.     Oileh   karena   itu, tugas   peikolinguiatik    adalah   meneliti  kemampuan   yang      rumit   itu   dengan terperinci.      Miller    pun     menegaskan bahwa     bahasa     bukan    hanya mempermasalahkan arti  tetapi  bagaimana kekmampuan manusia dalam mengatur syaraf-sayaraf atau kalimat-kalimat baru yang sangat berguna.
        Jika disimpulkan,  pada  awalnya, psikolinguistik beraliran behaviorisme. Namun,  berdasarkan  perkembangannya    yang bersifat mentalis dan mencoba menjelaskan hakikat rumus yang dihipotesiskan, maka kajian psikolinguistik pun semakin berkembang pada arah kognitif. Lahirnya tata bahasa generatif oleh Chomsky  merupakan inovasi tersendiri di bisang ini.    Oleh  karena  itu,  Chomsky  disebut  sebagai “Bapak  Linguistik  Modern”  sedangkan Wilhem Wundt disebut sebagai “Bapak Psikolinguistik Klasik”.  


6.  Tiga Generasi Psikolinguistik
Perkembangan  disiplin   ilmu    psikolinguistik    telah  merangsang    Mehler     dan    Noizet     untuk     menulis     artikel   “Vers     une    Modelle     Psycholinguistique  du  Locuter”  (1974)  yang  dimuat  di  Textes   Pour   une    Psycholinguistique.    Dalam   artikel   ini   dijelaskan   bahwa   ada   tiga   generasi    perkembangan psikolinguistik.

6.1  Psikolinguistik Generasi Pertama
Psikolinguistik    generasi    pertama    ini  ditandai   oelh  penulisan  artikel “Psycholinguistics : A Survey of Thery and Research Problems”  yang   disunting   oleh   C. Osgoods   dan   Sebeok.  Maka   kedua   tokoh   ini  dinobatkan   sebagai   tokoh psikolinguistik   generasi   pertama.  Titik  pandang  Osgoods     dan    Sebeok dipengaruhi     aliran   behaviorisme. Menurut Parera (1996) dalam Abdul Chaer generasi pertama memiliki  tiga kelemahan :
a.    adanya     sifat  reaktif  dari  psikolinguistik  tentang   bahasa    yang memandang  bahwa     bahasa     bukanlah     satu   tindakan    atau  perbuatan  manusiawi  melainkan dipandang  sebagai    satu  stimulus-respons.
b.    psikolinguistik bersifat atomistik. Sifat ini nampak jelas ketika Osgoods  mengungkapkan  teori  pemerolehan     bahasa    bahwa  jumlah pemerolehan bahasa adalah   kemampuan   untuk membedakan kata atau bentuk yang berbeda, dan kemampuan  untuk melakukan generalisasi.
c.    bersifat  individualis.     Teorinya     menekankah       pada    perilaku  berbahasa     individu-individu     yang    terisolasi  dari  amsyarakat  dan komunikasi nyata.
Tokoh lain psikolinguistik generasi pertama ini adalah Bloomfoeld dan Skinner.

6.2 Psikolinguistik Generasi Kedua
        Teori-teori generasi pertama ditolak oleh beberapa tokoh seperi Noam Chomsky dan George Miller.  Menurut Mehler dan Noizet, psikologi generasi kedua telah mengatasi ciri-ciri atomistik psikolinguistik.  Psikologi generasi ini berpendapat bahwa dalam proses berbahasa bukanlah butir-butir bahasa yang   diperoleh,   melaikan   kaidah   dan   sistem   kaidahnya. Di   sini,   orientasi psikologis digantikan oleh orientasi linguistik. Penggabungan antara Miller dan Chomsky meruapakan penggabungan model-model linguistik tatabahasa Chomsky yang relatif berbeda dengan proses-proses psikologi.  Malah Mehler dan   Noizet   mengatakan   bahwa psilinguistik   generasi   kedua   anti-psikologi. Tokoh     fase  ini  lebih   mengarah  pada    manifestasi    ujaran   sebagai   bentuk linguistik.       
G.S.   Miller   dan  Noam     Chomsky      menyatakan     beberapa    hal  tentang psikolinguistik     generasi    kedua   ini dalam  artikel  “Some  Preliminaries  to  Psycholinguistics” :
a)    Dalam     komunikasi     verbal,   tidak   semua    ciri-ciri  fisiknya  jelas  dan terang, dan tidak semua ciri-ciri yang etrang dalam ujaran mempunyai representasi fisik.
b)    Makna      sebuah    tuturan   tidak   boleh   dikacaukan     dengan     apa  yang  ditunjukkan.      Makna      adalah   sesuatu    yang   sangat    kompleks     yang menyangkut       antar   hubungan     simbol-simbol atau  lambang-lambang. Respons yang    terpenggal-penggal      terlalu  menyederhanakan manka  secara keseluruhan.
c)    Struktur   sintaksis   sebuah   kalimat   terdiri   atas   satuan-satuan   interaksi anatara makna kata yang terdapay dalam kalimat tersebut.  Kalimat-kalimat itu tersusun secara hierarkis, tetapi belum cukup menjelaskan wujud luar linguistik.
d)    Jumlah   kalimat   dan   jumlah   makna   yang   dapat   diejawantahkan   tidak terbatas    jumlahnya.       Pengetahuan  seseorang     akan    bahasa    harus  dikaitkan     dengan kemampuan  seseorang    menyusun      bahasa    dalam  sisitem sintaksis dan semantik.
e)    Harus dibedakan antara pendeksripsian bahasa dengan pendeskripsian  pemakaian   bahasa. Seorang   ahli   psikolinguistik harus  merumuskan model-model pengejawantahan bahasa  yang  dapat meliputi  pengetahuan kaidah bahasa.
f)     Ada   komponen   biologis   yang   besar   untuk   menentukan kemampuan berbahasa.   Kemampuan  berbahasa     ini   tidak tergantung  pada  intelegensi dan besarnya otak, melainkan bergantung pada “manusia”.

6.3 Psikolinguistik Gegerasi Ketiga
        Psikolinguistik     generasi    kedua    menyatakan      bahwa    analisis   mereka mengakui  bahasa    telah    melampaui  batas    kalimat.      Namun,  pada kenyataannya,  analisis   mereka   baru   sampai  pada   tahap   kalimat   saja,   belum pada    wacana.     Kekurangan       analisis   pada   psikolinguistik     generasi   kedua kemudian       diperbaharui    oleh   psikolinguistik    generasi    ketiga.  G.    Werstch dalam      bukunya     Two     Problems    for   the  New     Psycholinguistics  memberi karakteristik  baru  ilmu  ini  sebagai  “psikolinguistik  baru”.    Beberapa  ciri  psiklonguistik generasi ketiga ini adalah :
a)  Orientasi mereka kepada psikologi, tetapi bukan psikologi perilaku. Seperti    yang   diungkapkan Fresse   dan   Al  Vallon    (Prancis) dan    psikolog   Uni   Soviet,   telah   terjadi   proses   serempak dari   informasi   psikologi dan linguistik.
b)  Keterlepasan mereka dari kerangka “psikolinguistik kalimat”, dan   lebih mengarah pada “psikolnguistik situasi dan konteks”.
c)  Adanya pergeseran dari analisis proses ujaran yang abstrak ke satu analisis psikologis mengenai komunikasi dan pikiran.
        Sebetulnya,   psikolinguistik   di   Rusia   lebih   dahulu   berkembang
dari   pada di   negara-negara   Barat.    Hal   ini   terjadi   karena   sejak   awal psikolinguistik di Rusia telah memperhitungkan perilaku komunikasi dan   perpikiran  dalam  analisis psikolinguistik.  Selain itu, psikolinguistik di   Rusia   dikenal    dengan   istilah  “Teori    Aktivitas  Ujaran”  yang  mendasarkan  dirinya  pada  postulat  bahwa  perilaku  manusia   bersifat   aktif,   porpusif,   dan   inovatif.   Postulat   ini   di   negara batar belum tercapai.

Daftar Pustaka
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik, Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta

Dardjowidjojo, Sujono. 2003.Psiko-Linguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor.

Djumransjah. 2004. Pengantar Filsafat Pendidikan. Malang : Bayumedia
 Publishing.
Kholid A. Harras dan Andika Dutha Bachari. Dasar-dasar Psikolinguistik. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Pers.


Mar’at, Samsuniwiyati. 2005. Psikolingusitik Suatu Pengantar. Bandung : Refika  Aditama.

= Baca Juga =



No comments

Theme images by mammamaart. Powered by Blogger.
Back to Top